Selasa, 21 Februari 2012

PURA PEDHARMAN KAWITAN ARYA KEPAKISAN (ARYA NYUH AYA)

Pada jaman pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir (Dalem Sri Semara Kepakisan) yang berstana di Gelgel, Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya) pindah ke lingkungan kerajaan Gelgel. Pada waktu pindahnya  Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya) ke Gelgel pada Isaka 1302 (1380 M) hanya diikuti oleh Arya Petandakan (putra Pengeran Nyuh Aya). Keturunan beliau lainnya masih tinggal di Desa Nyuh Aya.
Ketika Arya Petandakan (Putra Pengeran Nyuh Aya) menjadi pejabat kerajaan dengan jabatan Maha Patih Agung itu berlangsung pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong, beliau mulai membangun Parahyangan yaitu Pura Dalem Nyuhaya yang letaknya dipinggir Tukad Unda antara Desa Jumpai dan Desa Tangkas (daerah itu belum menjadi Banjar Dukuh sekarang). Akibat bencana alam Gunung Agung yang meletus tahun 1963, pura tersebut mengalami kerusakan. Pura Dalem Nyuhaya akhirnya di pindahkan ke tempat sekarang.  Sedangkan setranya terletak di depan Pura Dalem Nyuhaya. Pura tersebut masih disungsung warga keturunan Nyuh Aya yang ada di Br Dukuh hingga sekarang.
Setelah kerajaan Gelgel pindah ke Semarapura (Klungkung sekarang) yang menjabat sebagai Manca di Gelgel adalah A.A. Ktut Agung. Beliau membuat parahyangan di Pura Dalem Nyuhaya, dan didalam pura tersebut pelinggihnya ditambah yaitu  satu Gedong Dalem dan satu Sanggaran Agung yang terletak di “teben” pelinggih yang sudah ada. Itu menandakan ada ikatan antara keturunan Sri Dalem Ketut Kresna Kepakisan dan Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya).  Adanya Setra di sebelah barat Pura Dalem Nyuhaya itu menandakan pura tersebut bukanlah Pura Kawitan.  Pura Dalem Nyuhaya akhirnya direnovasi (dibangun kembali) tahun 1970an.
Begitu juga dengan pembangunan Pedharman yang merupakan gagasan Raja  Klungkung Ida I Dewa Agung Bale Mas (1842 M), yang bertujuan menyatukan kembali raja-raja di Bali. Pada saat itu yang hadir hanya raja Mengwi, sehingga hanya Pedharman Dalem Sri Kresna Kepaksisan dan Pedharman Raja Mengwi saja yang dibangun.
Merasa adanya ikatan seperti tersebut diatas, ketika semua keturunan para arya dan raja-raja di Bali membangun Pedharman, maka Prati Sentana Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya) tidak perlu lagi membangun Pedharman tersendiri. Untuk menghormatinya, maka Pedharman Arya Nyuh Aya diperbolehkan “Ngiring” pada Pedharman Ida Dalem Sri Kresna Kepakisan yang berada dilingkungan Pura Besakih, sesuai petunjuk Ida Dalem Pemayun dari Puri Klungkung kepada “para tetua” yang ada di Sidayu Nyuhaya.  Ini menunjukkan suatu kehormatan tersendiri,  bahwa Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya)  merupakan Mahapatih Agung yang sangat diandalkan “Andel” dalam menjalankan pemerintahan mendampingi Dalem Sri Kresna Kepakisan, begitu juga dengan keturunan beliau seterusnya, agar saling menghormati sesuai dengan konsep Bhakti lan Asih.

4 komentar:

  1. terus kalau kita nangkil ke besakih pedharman mana harus kita maturan, di pedharman dalem kepakisan atau pedharman raja mengwi?

    BalasHapus
  2. Sesuai bhisama yang diterima Prati Sentana Arya kepakisan, bila maturan ke Besakih, untuk di Pedharman, maturan ke Pedharman Dalem Sri Kresna Kepakisan..
    Bhisama yang diterima menyatakan, dimana ada Dalem (Dalem Sri Kresna Kepakisan) disana ada Nyuh Aya (Arya Kepakisan), ini dibuktikan bahwa Dalem Nyuh Aya yang disungsung oleh Prati Sentana Arya Kepakisan di Gelgel pada jaman AA Agung Ketut Agung menjadi Manca di Gelgel, membangun satu buah Gedong Dalem di sebelah Gedong yang ada (Gedong Nyuh Aya), namun setelah direnovasi tahun 1970 Gedong tsb. dijadikan satu... membuktikan ada ikatan yang sangat erat antara Arya Kepakisan sbg Patih Agung dengan Dalem Sri Kresna Kepakisan sbg Raja ... ini telah diterima secara turun temurun...
    ...Pembangunan Pedharman di lingkungan Pura Besakih, di prkarsai oleh I Dewa Agung Balemas, pada tahun 1842. Beliau mengadakan doa politik melalui Ngaturang Karya Panca Bali Krama yang dipercepat di Pura Besakih, dengan mengundang Raja-Raja se Bali untuk hadir sekaligus menyarankan raja-raja membuat Pedharman sebagai simbol Ikrar dan menyatukan tekad dan kekuatan untuk mengusir belanda dari bumi Bali. Sayang sekali upaya Beliau kurang mendapat respon, sekalipun yang hadir tidak menyokong Pendirian Pedharman. Buktinya Raja Buleleng dan Karangasem (masih keturunan Arya Kepakisan) menolak, begitu juga Raja Bangli. Hanya Raja Mengwi (masih keturunan Arya Kepakisan) yang memenuhi permintaan Beliau. Jadi ketika itu hanya dua Pedharman yang dibangun yaitu Dalem Kresna Kepakisan dan Raja Mengwi. Walau demikian beliau tetap bertekad mewujudkan konsep ingin menyatukan raja-raja se Bali dengan membangun Pedharman. Pelan tapi pasti meski dalam kurun waktu yang panjang pembangunan Pedharman oleh keluarga raja-raja se Bali akhirnya terwejud. Sesunggunya sekali lagi Pembangunan Pedharman tersebut hanya besifat Politis. (dikutip dari Proses Berdirinya Kerajaan Klungkung oleh I Gusti Made Warsika, SH)

    BalasHapus
  3. Menurut babad bali pedarman yg ada di Besakih tercatat hanya ada
    1. Pedarman Blahbatuh
    2. Pedarman Ida Dalem Klungkung
    3. Pedarman Telabah Apit Yeh
    4. Pedarman Telabah
    5. Pedarman Bujangga Wisnawa
    6. Pedarman Badung
    7. Pedarman Sukahet
    8. Pedarman Sukawati
    9. Pedarman Kubontubuh
    10. Pedarman Pungakan Bangbang
    11. Pedarman I Gusti Ngurah Mengwi
    12. Pedarman Kaba-kaba
    13. Pedarman Pasek ,
    Dan pedarman Dalem Shri Aji Kresna Kepakisan belum ada,
    pertanyaan:
    1. Kapan pedarman itu didirikan
    2. Apakah bisama yg tercatat diatas hanya berlaku untuk masyarakat Sidayu melihat bahwa I Gusti Ngurah Menguwi yang dari Kerjaan Menguwi juga dari garis keturunan langsung Arya Kepakisan.

    BalasHapus
  4. Om Swastyastu,

    Ampure nggih, yening tityang tangkil ring Pura Besakih, tityang selalu melakukan persembahyangan ring Pedharman Mengwi.

    Suksma, Salam AKEPAKAN

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.